Sejarah Kelurahan Setonopande


SEJARAH SINGKAT KELURAHAN SETONOPANDE

Kelurahan Setonopande adalah salah satu Kelurahan yang ada di Kecamatan Kota Kota Kediri. Setonopande sebelumnya adalah dua kawasan yang berbeda, yaitu Kawasan bernama Setono Betek dan Kawasan Pandean. Disebut Setono Betek yang jika dimaknai terpisah Setono berarti Rumah, sedangkan Betek memiliki makna dinding atau pagar berupa bambu. Mendapat julukan Setono Betek karena dahulu Kawasan Setono Betek tersebut mayoritas rumah penduduknya bagian bawah menggunakan tembok atau batu bata dan bagian atas menggunakan Betek (bambu yang di anyam). Sedangkan Kawasan Pandean mendapat julukan tersebut karena diperkirakan pada zaman kerajaan daerah tersebut dulunya adalah Kawasan permukiman pande besi atau ahli besi pembuat senjata perang.

Keberadaan Lingkungan Setono Betek dan Lingkungan Pandean, besar kemungkinan menjadi cikal bakal cerita terbentuknya nama Setonopande. Hal ini bisa dilihat dari berberapa nama tempat di Setonopande, seperti Pandean, dan Setono Betek jika kedua nama lingkungan tersebut di gabung bisa menjadi nama Setonopande.

Setonopande memiliki punden berupa makam orang bersejarah yang singgah, menetap, dan gugur. Punden tersebut sampai saat ini masih ramai dikunjungi lantaran berada di tengah-tengah perkampungan warga. Ketiga punden tersebut diantaranya adalah Punden Ki Ageng, Mbah Depok dan Ki Ageng Sumodikoro. Punden Ki Ageng berada di belakang kantor Kelurahan baru Setonopande, di punden tersebut terdapat berberapa makam yaitu makam Mbah Darmo Yudo, Mbah Mangku Yudo dan Ki Ageng Kukusan, serta berberapa prajurit. Mereka semua konon berasal dari kerajaan singosari yang sedang mencari informasi tentang Kerajaan Kediri. Senopati Darmo Yudo adalah orang pertama yang ditugaskan untuk berangkat ke Kerajaan Kediri namun karena tidak segera kembali, kemudian sang adik Senopati Mangku Yudo menyusul bersama penasehat mereka Ki Ageng Kukusan. Darmo Yudo sudah merasa nyaman disini jadi tidak mau kembali, karena dipaksa, akhirnya terjadi peperangan dan semuanya meninggal dunia di sini . Dua punden lain yaitu punden di lingkungan Pandean yang bermana Ki Ageng Sumodikoro dan punden Mbah Depok yang berada di belakang Radio Wijang Songko (RWS). Menurut warga ketiga punden tersebut pasti memiliki korelasi awal mula terbentuknya Kelurahan Setonopande jika dilihat dari cerita sejarahnya.